Apa yang ada di benak anda saat mendengar kata SKRIPSI?
Pasti jawabannya “SELESAI KULIAH S1”.
Tetapi, seberapa dekat anda dengan kata-kata “SELESAI KULIAH S1”? Sudah siapkah SKRIPSI anda untuk dipertanggungjawabkan di meja sidang?
Itu adalah pertanyaan yang paling meresahkan kebanyakan mahasiswa semester akhir.
Skripsi yang berjumlah 6 SKS itu kelihatannya sangat rumit mengingat itu sebagai penentu apakah aku dapat menyelesaikan studi dan menjadi sarjana sesuai dengan target yang sudah aku perkirakan semenjak pertama kali menduduki bangku kuliah. “Aku akan selesai dalam waktu kurang dari 4 tahun”. Itu adalah kalimat yang sering aku perjuangkan selama aku menjalani proses sebagai seorang mahasiswa di Kampus Merah Makassar jurusan Sastra Inggris.
Saat menjadi mahasiswa pada tahun-tahun pertama, rasanya memang sulit untuk membayangkan bagaimana pembuatan skripsi yang akan dibuat sendiri oleh tanganku, pikiranku dan penelitianku. Skripsi yang tebalnya hingga 50 halaman lebih, akan dibuat oleh imajinasi dan eksperimen aku sendiri itupun dengan bahasa inggris di setiap kata-nya. Apa aku bisa?
Setiap kali aku membaca skripsi senior-senior yang isinya dari halaman pertama hingga akhir adalah bahasa inggris, aku langsung meragukan diri sendiri. Soalnya pengetahuan aku tentang grammar masih kurang, vocabulary apalagi dan aku belum pernah menulis ilmiah dengan bahasa inggris. Dan ini masalah SKRIPSI yang notabene penentu agar aku bisa sarjana dan segera menjadi apapun yang aku inginkan dengan ijazah di tangan.
See! Kelihatannya memang sangat rumit kan?! Tapi selang waktu berjalan, aku akhirnya sampai juga di tengah-tengah semester 8 dimana hanya ada satu mata kuliah yang harus aku selesaikan yakni SKRIPSI.
Bukan masalah lama atau tidaknya SKRIPSI akan aku buat, bukan masalah bagaimana cara menulis sebuah SKRIPSI, bukan pula masalah bagaimana cara melakukan penelitian. Tetapi lebih kepada masalah KAPAN AKU MAU MEMULAI?. Tantangan prokrastinasi adalah tantangan terberat yang aku hadapi selama pembuatan skripsi. Aku terlalu banyak menghabiskan waktu untuk mencari inspirasi tanpa mencoba untuk memulai.
Akhirnya aku bertekad untuk mulai menulis yang kemudian aku ajukan sebagai proposal. Tiga kali aku mengajukan proposal, tiga kali pula aku ditolak oleh pembimbing skripsi. Sebenarnya aku sudah mencoba mempengaruhi pembimbing untuk menerima ideku karena ide tersebut sudah berkali-kali aku diskusikan dengan beberapa pengajar dan mereka menyetujuinya. Tetapi bagi pembimbingku, ide yang aku ajukan tidak masuk akal dan sulit dipertanggungjawabkan. Saat itu aku mulai putus asa. Aku tidak punya ide lain lagi. Tetapi semakin sering aku konsultasi akhirnya pembimbing mau membantu. Alhamdulillah beliau memberikan aku inspirasi dan ide tentang meneliti jumlah kosa kata bahasa Inggris yang dikuasai oleh siswa SMA kelas XI di sebuah Sekolah tingkat lanjut yang berlokasi tidak jauh dari rumahku. Yang paling sering terngiang di telingaku adalah kata-kata Bunda dan Ayah “Ikuti saja apa maunya pembimbing”. Aku dengar dan aku patuh.
Yah! Ide sudah ada di kepala, rancangan penelitian sudah siap. Tinggal meneliti saja. Sebenarnya tidak ada yang rumit dalam pembuatan skripsi. Yang rumit adalah jika tidak mau memulai. Itu saja yang membuat setiap mahasiswa merasa resah dan menyulitkan diri sendiri. Hal ini pula yang seringkali jadi penunda mahasiswa untuk segera selesai dan menjadi sebab utama mahasiswa tidak selesai sampai bertahun-tahun lamanya. Padahal dengan memulai, maka proses itu akan berjalan dengan sendirinya. Dan tantangan apapun yang menerpa, akan berusaha dilewati. Yang penting punya target + tekad = toga. That’s it.
Selama pembuatan skripsi banyak tantangan yang harus dilewati dan tantangan yang cukup menguras keringat dan merusak mata alias mata pencaharian adalah proses administrasi untuk meneliti di SMA. Untuk melakukan sebuah penelitian ilmiah di sekolah, harus melewati beberapa tahap admisnitrasi.
Meminta surat izin dari Fakultas untuk ditujukan pada BALITBANGDA SUL-SEL
Meminta surat izin meneliti dari Balitbangda yang ditujukan pada Walikota Makassar
Meminta surat persetujuan penelitian dari Walikota yang diteruskan pada Kepala Dinas Pendidikan Kota Makassar
Meminta surat izin dari Kepala Dinas yang ditujukan pada Kepala Sekolah.
Ini nih contoh surat izin dari BALITBANGDA Sul-Sel
Sangat berbelit-belit. Aku sendiri memulai pada tahap 4 waktu itu. Sehingga pada tahap tersebut aku harus mundur tiga tahap lagi yang kemudian salah dan salah lagi. Akhirnya aku sampai pada tahap 1 dan harus membuat surat izin meneliti dari Fakultas untuk yang ke-sekian kalinya.
Seperti inilah jika tidak mengetahui informasi. Aku justru mengetahui tahap-tahap ini dari mahasiswa jurusan kesehatan. Apa sebelum-sebelumnya, mahasiswa di fakultasku yang meneliti di sekolah tidak melalui tahap-tahap ini ya? Jadi bingung. Waktu itu ada yang mencoba mempengaruhiku untuk melakukan jalan yang langsung bisa ditmpuh tanpa harus melalui tahap-tahap tersebut. Tapi, sayangnya waktu itu aku tidak punya koneksi khusus dengan pihak manapun sehingga mengharuskan aku untuk bekerja dengan jujur. Meskipun rumit dan perlu berjuang yang penting jalannya aman dan lurus. Tidak perlu sampai menjatuhkan harga diri seorang yang bergelar agung MAHASISWA. Itu juga adalah TEKAD.
15 Maret 2010. Aku memulai penelitian yang seluruh materialnya adalah buatan aku sendiri. Dengan referensi yang cukup aku berusaha mencapai TARGET yang aku tentukan. Tahun ini bulan Juni aku harus sudah memakai TOGA.
Penelitianku hanya berlangsung selama beberapa menit setelah para sampel penelitian yakni siswa kelas XI baru saja menyelesaikan ujian mid semester di sekolah. Bagaimanapun juga, aku harus segera meneliti. Yang jelas aku sudah memiliki izin dari kepala Dinas Pendidikan yang juga disetujui oleh Gubernur dan Walikota. Itu artinya aku tidak perlu khawatir tentang per-izinan lagi bahkan sampai dua minggu lamanya.
Tiba masanya aku mengolah hasil penelitian. Hanya saja semasa aku memulai pengolahan data, ada hal-hal yang mulai mengusik dan mempengaruhi konsentrasiku pada Skripsi. Termasuk kewajibanku di kantor. Semuanya seperti mengejar. Meskipun mereka tahu aku sedang berkonsentrasi, tetapi aku masih tetap merasa tidak bisa memulai mengolah dan menganalisis data. Saat itu aku tidak tahu harus bagaimana. Target harus bisa ujian meja pada bulan Mei. Agar setelah itu aku bisa fokus kembali pada pekerjaan. Hahhh… tapi tidak bisa. Aku harus apakan hasil penelitian ini? Kuesioner dan angket serta hasil interview ini harus diapakan hingga bisa menjadi sebuah skripsi? Aku mulai blank. Aku perlu hiburan. Kebetulan waktu itu aku bersama Ayah dan Bunda akan ke Tanah Suci untuk melaksanakan ibadah umroh. Yup! Aku akhirnya selama beberapa minggu meninggalkan kegiatan kantor dan niat ibadah sungguh-sungguh sekaligus untuk menenangkan diri dari berbagai kesibukan. Dua minggu cukup untuk berlibur. Dan ketenangan batin mengantarku sampai di Bandara Sutan Hasanuddin.
But, Fiuhh… sangat berbeda dari yang kuharapkan. Niat ingin menenangkan diri tetapi justru pikiran semakin terganggu. Sampai di rumah, semua yang ingin aku lupakan sejenak tiba-tiba muncul kembali dalam memory. Skripsi-Target-Kerja-Perasaan-Angket-Toga-Pembimbing-Sarjana-Siswa-siswaku. Argggghhhhh!!! Harus bagaimana? Harus bagaimana? Kalau begini terus kapan selesainya?
Kubangun kembali TEKAD yang runtuh satu persatu itu. TARGET makin dekat. Jika terus-menerus memikirkan hal lain pasti hasilnya akan lebih kacau. Aku akhirnya mensugesti diri sendiri. Hufft.. ini yang disebut stress dan Sugesti diri sendirilah obatnya. Targetku di bulan Juni. Berarti bulan Mei harus sudah menjadi seorang sarjana. Setelah itu fokus bekerja selama setahun dan menjalani kuliah sebagai seorang mahasiswa pasca. Apa sulitnya?
Nah.. ini tempatku bersemayam dalam menganalisis data
Skripsi. Sudah terselesaikan BAB I sampai BAB III saat pembuatan proposal. Berarti sisa dua bab lagi. Meskipun penjelasannya panjang tetapi INILAH PROJEKKU. INI HASIL KARYAKU. INI ADALAH BUATAN TANGAN DAN PIKIRANKU SENDIRI. Lalu apanya yang sulit? Sama sekali tidak ada. Yang penting tenang melalui proses. Fokuskan pikiran pada target maka akan tepat sasaran. Tarik napas panjang dan bertekad maju melawan apapun yang menghadang baik itu kerjaan yang menumpuk, perasaan yang galau dan provokasi dari luar. Insya Allah sampai. Yang penting bertekad mau berjalan di jalan yang lurus tanpa harus merasa terbebani oleh apapun juga. Jalani saja dengan tenang dan senang. Pasti bisa sampai di tempat tujuan dengan perasaan puas atas kerja keras. So keep on moving. Tidak ada yang sulit kecuali kita yang mempersulit diri sendiri. Dan akhirnya, 19 Mei 2010, hari balasan atas kerja keras pun tiba. Ba’da Dhuhur gelar Sarjana Sastra (S.S) sudah berada di belakang nama SUCI AYU KURNIAH P. Alhamdulillah…. ^_^
Suci Ayu Kurniah P., S.S
15 TIPS DALAM MENYELESAIKAN SKRIPSI
Tentukan target kapan ingin jadi sarjana
Bulatkan Tekad #1
Ikuti prosedur sesuai aturan yang ada
Jangan sepelehkan ide-ide pembimbing
Jangan ragu untuk konsultasi bahkan di rumahnya sekalipun asalkan buat janji terlebih dahulu
Abaikan pengaruh apapun dari luar meskipun itu kedengarannya menyenangkan
Jangan biarkan sindrom prokrastinasi menguasai waktu luang
Tetap mengerjakan kewajiban dengan enjoy
Sugesti diri jika terdapat gangguan-gangguan oleh virus merah jambu
Bulatkan Tekad #2
Pikirkan bagaimana hasilnya sambil menjalani proses dengan tenang
Jangan persulit diri sendiri
Ikuti ujian dengan percaya diri
Sugesti diri sekali lagi SKRIPSI ADALAH PROJEK ANDA bukan PROJEK ORANG LAIN jadi anda patut menguasainya.
Minta ridho orang tua dan mohon bantuan do’a dari orang-orang terkasih anda.
SELAMAT MEMBUAT SKRIPSI
TARGET + TEKAD = TOGA
sumber: lyric
Tips mudah menyelesaikan skripsi sastra inggris
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar:
Posting Komentar